//
you're reading...
Umum

SOSOK PEMIMPIN

 

Assalamualaikum,

Seorang pemimpin merupakan tokoh sentral yang menentukan harkat, martabat dan hidup orang banyak, kehadirannya bagai udara yang sejuk, air yang menghilangkan dahaga, menimbulkan kehangatan di tengah masyarakat, menciptakan keharmonisan antara alam dan para penghuninya, mampu memegang Amanah dari si pemberi Amanah, mendapat restu dari semesta alam, menghantarkan kejayaan kepada para pengikutnya, menghimpun energi segenap alam untuk melindungi rakyatnya, tangannya hangat dan menyembuhkan bagi siapapun yang menyentuhnya, rangkulannya mampu menghilangkan kesedihan di setiap hati para pemujanya, memegang teguh prinsip “ dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung ”, yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran, memiliki sifat utama yaitu Benar (Siddiq), Dapat dipercaya (Amanah), Menyampaikan amanat (tabliqh) dan Pandai (Fathonah).

Seorang pemimpin harus mengenal apa dan siapa yang ia pimpin bukan hanya tahu luarnya saja, bahkan kenal dengan masing-masing individu atau bahkan mahkluk yang ia pimpin. Sehingga hakikatnya ia akan mengerti kondisi susah atau senang terhadap mahluk yang ia pimpin, sehingga dalam hatinya tak pernah terlewat sedikitpun kesusahan yang dirasakan oleh rakyatnya dan belum berhenti ia berfikir kecuali rakyatnya sudah makmur dan tentrem.

Sosok pemimpin mempunyai ciri-ciri fisik :

  1. Secara keseluruhan hampir di seluruh tubuh dan badannya berotot kekar menandakan seorang pekerja keras.
  2. Tinggi badan dan bentuk badan proporsional.
  3. Cara hidup dan berpakaian melambangkan kesederhanaannya.
  4. Tidak terlalu memperhatikan penampilan.
  5. Kaki kekar berotot untuk menahan beban dan membawanya berjalan untuk melihat-lihat kondisi rakyatnya.
  6. Perut tidak besar cenderung ramping menandakan lebih baik lapar diri daripada rakyatnya yang kelaparan.
  7. Bentuk badan tegap siap menanggung beban berat rakyat.
  8. Tangan yang kekar berotot yang gunanya memikul beban rakyat beserta alam dan seluruh mahkluk yang ia pimpin bahkan untuk mengangkat beban yang mustahil untuk ia pikul.
  9. Bentangan tangannya mampu melindungi seluruh mahkluk yang ia pimpin.
  10. Selalu melihat ke bawah tidak pernah melihat ke atas.
  11. Dahi selalu berkerut memikirkan seluruh persoalan bangsa.
  12. Memberikan harta untuk kemaslahatan umat.
  13. Tidak mempunyai banyak keinginan.
  14. Kaya harta sekaligus kaya hati.
  15. Telinganya selalu mendengar keluh kesah warganya.
  16. Hampir selalu dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
  17. Sorot matanya tajam seakan dindingpun tak mampu menghalangi pandangannya.
  18. Melihat dan menyelesaikan seluruh persoalan dengan mata hati.  
  19. Selalu mengedepankan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan pribadi atau golongan.
  20. Kantong matanya hitam menandakan ia mengurangi tidur untuk beribadah dan karena harus menyelesaikan persoalan yang menumpuk.
  21. Mulutnya selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang baik.
  22. Ucapannya sesuai  dengan perbuatan.
  23. Tak pernah mempunyai rasa takut.
  24. Bersedia kapanpun dibutuhkan untuk membantu.
  25. Diamnya dan tidurnya adalah Dzikir kepada ALLAH AZZA WA JALA.
  26. Pemikirannya sangat jauh ke depan.
  27. Pengetahuannya melampaui dimensi-dimensi alam.
  28. Mengucapkan niat dua kalimat Syahadat.
  29. Mempunyai garis keturunan / trah pemimpin.
  30. Mencapai kematangan usia berfikir di kisaran 40 th ke atas.
  31. Setiap perbuatan dan keputusannya mengacu pada ALQURANUL AZHIM

 

Contoh Kesederhanaan Seorang Pemimpin

a.Umar bin Khattab

Saat menjabat sebagai Khalifah Umar bin Khattab berlaku sangat zuhud meski beliau sesungguhnya seorang yang sangat kaya. Pernah suatu hari jamaah kaum muslimin hendak menunaikan sholat jumat. Waktu sudah mepet dan khutbah jumat sudah saatnya disampaikan tapi Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a belum juga keluar dari rumahnya. Sebagian jamaah mulai menebak-nebak, jangan jangan Khalifah sedang sakit karena tidak seperti biasanya ia terlambat menyampaikan khutbah jumat. Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a adalah seorang yang berdisiplin tinggi. Tidak pernah ia melalaikan kewajibannya sebagai pemegang amanah umat.

Dan tak berapa lama kemudian Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a keluar dari rumah menemui jamaah kaum muslimin yang sudah menanti dimulainya khutbah jumat. Setelah memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi SAW dan menyampaikan pesan taqwa kepada jamaah ia menyampaikan perihal keterlambatannya mengisi khutbah. Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a berkata “ Bahwa aku hanya memiliki selembar pakaian ini saja yang selalu aku pakai setiap hari dalam menjalankan tugas kekhalifahanku dan tadi aku mencucinya dan lama aku menungguinya hingga mengering ”. Sambil berkata seperti itu Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a selalu mengibas ngibaskan pakaian gamisnya karena belum kering sepenuhnya.

b.Abu bakar As Shiddig

Khalifah sebelumnya yaitu Abu Bakar As Shiddiq r.a, dalam sehari rumah tangganya hanya menghabiskan sekitar enam atau tujuh dirham saja Dan Abu Bakar telah mengganti semua gaji yang ia dapatkan dari baitul mal selama dua setengah tahun sebanyak enam ribu dirham. Abu Bakar telah menjual property yang ia miliki dari hasil perniagaannya selama ini dan hasil penjualan itu diserahkan cash ke baitul mal.

Abu Bakar As Shiddiq r.a saat menjelang akhir hayatnya berwasiat kepada anaknya, Aisyah r.a agar baju yang ia kenakan sekarang diberikan kepada Khalifah berikutnya karena masih layak dipakai. Mengetahui hal ini maka Umar bin Khattab r.a berkata “Wahai Abu Bakar engkau telah menjadikan posisi khalifah berikutnya menjadi sangat sulit” .

Inilah contoh keteladanan yang pernah umat lihat, rasakan dan jalani. Memang benar bahwa bila harta melimpah yang kita peroleh dengan jalan yang halal bisa kita nikmati asal sudah ditunaikan zakatnya. Tapi dimata rakyat mereka akan melihat contoh pemimpinnya dalam hal kesederhanaan. Rakyat akan merasa sakit bila pemimpin mereka berpenampilan mewah dan glamour.semoga bila kita diamanahi menjadi pemimpin bisa mengikuti contoh teladan para khalifah terdahulu.

Hakikat Seorang Pemimpin

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa seorang pemimpin wilayah, daerah bahkan bangsa harus bisa mengharmoniskan dan merukunkan antara rakyat dengan alam dan lingkungan sekitar, karena pada hakikatnya seluruhnya adalah mahkluk yang diciptakan dan berasal dari ALLAH SWT. Jadi seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyelaraskan atau sebagai penengah dan jembatan yang bisa menghubungkan antara keseluruhan mahkluk maupun hubungan antara mahkluk itu sendiri dengan TUHANNYA. Sehingga masing-masing individu merasa diperhatikan dan saling hormat menghormati sehingga tidak ada singgungan-singgungan maupun gesekan yang menyebabkan tidak seimbangnya Alam di wilayah yang ia pimpin. Keseimbangan menjadi begitu penting maknanya, karena jika manusia hilang keseimbangan pasti tidak akan mampu berdiri, Alam apabila tidak seimbang akan merusak ekosistem, antara pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang akan mengganggu perencanaan keuangan dan lain sebagainya.

Ada salah seorang pemimpin di sebuah daerah dimana syarat-syarat untuk menjadi pemimpin sebagian sudah dimilikinya, antara lain : berasal dari golongan bangsawan, mempunyai trah kepemimpinan, tercukupi hartanya, mendapat pendidikan umum dan keagamaan dengan baik, menjunjung nilai-nilai luhur dan budaya bangsa, terbiasa dari kecil menjadi seorang pemimpin, dicintai oleh rakyat, dapat bersikap adil kepada rakyat, hidup tidak bermewah-mewah.

Namun dalam begitu banyak syarat-syarat yang telah dipenuhi oleh beliau, ternyata beliau belum sanggup/dapat menjaga kelestarian alam dan mendengarkan keluh kesah alam kepada dirinya, sehingga bencana tak terelakkan, dari bawah di hantam gempa dari laut banjir bandang dan tsunami dari atas diguyur hujan lahar komplit…plit apa sih penyebabnya?, kenapa beliau yang begitu dicintai rakyatnya kok tidak mampu menghindarkan rakyatnya dari terkena bencana.

Kita simak sedikit kisah Rasullulah SAW dengan para sahabatnya,

Pada saat Rasullulah SAW sedang berkumpul dengan para sahabat tiba-tiba terjadilah sebuah gempa yang maha dahsyat mengguncang wilayah tersebut, spontan Rasullulah bangkit dari duduknya dan beliau berkata : hai gempa apakah kamu tidak tahu bahwa di atas kamu berguncang ini berdiri seorang khalifah besar yaitu Abu Bakar As Shidiq yang mana apabila kebaikan, kejujuran dan keadilannya jika dibandingkan dengan umatku apabila dikumpulkan dari awal jaman hingga akhir jaman kebaikannya tak mampu menandingi beliau, masihkah kau berguncang? , dengan segera gempa itu berhenti. Karena sesungguhnya gempa itu adalah mahkluk.

Dalam kisah lainnya,                                                                                                                                   

Khalifah Umar bin Khattab r.a saat itu dipercaya untuk memerintah Madinah, di saat kepemimpinnya terjadi gempa yang begitu besar dan Umar bin Khattab pun menempelkan tangan dan telinganya ke bumi dan beliau berbicara, Hai gempa ; apakah aku kurang adil terhadap rakyatku?, apakah aku kurang mensejahterakan rakyatku?, sehingga kamu masih berguncang dengan begitu dahsyat, apabila setelah perkataanku ini engkau masih berguncang, Aku tak akan mau menginjakkan kakiku lagi di tempat ini, dengan seketika gempa itupun berhenti.

Dari kedua kisah tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa sosok pemimpin  selain harus dapat  mendengar rakyat juga mampu untuk mendengar alam guna mengharmoniskan dan menyelaraskan antara rakyat dan alam sekitar dan yang menentukan apa yang terjadi dan dapat terjadi terhadap penduduk di wilayah pemerintahannya, dari pemaparan di atas sifat keteladanan, kesederhanaan dan kearifan seorang pemimpin dijadikan contoh oleh seluruh rakyat dan alam, sehingga dari perbuatan pemimpin tersebut membuahkan hasil-hasil yang nyata terhadap wilayah yang ia pimpin.

Mencari sosok pemimpin seperti yang dikisahkan di atas bukanlah hal yang mudah, mengingat apa yang diceritakan adalah tentang Nabi Muhammad SAW dengan keempat sahabat, namun bukan berarti sosok yang mendekati kriteria tersebut tidak ada, melainkan sosok tersebut seakan tenggelam akibat rusaknya jaman, saling sikut-sikutan, yang lemah di singkirkan oleh yang kuat, yang miskin diinjak-injak oleh yang kaya, paling tidak dari empat syarat utama, tiga saja sudah cukup mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin asalkan sosok tersebut melihat segala persoalan dengan mata hati yang bisa memilah segala persoalan secara jernih, bisa berkomunikasi dengan seluruh mahkluk dan yang paling penting mendapat restu dari semesta alam yang artinya kehadirannya disambut dan dinanti-nantikan.

Ayat-ayat mengenai pemimpin.

1.      (73) عَابِدِينَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73)

 

2.                  } : اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى

    بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ

                                                                         وَعَلَيْهِمْ فَلَكُمْ وَإِنْ أَسَاءُوا ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Akan datang sepeninggalku beberapa pemimpin untuk kalian. Ada seorang yang baik yang memimpin kalian dengan kebaikan, namun ada juga pemimpin yang buruk yang memimpin dengan kemaksiatan. Maka hendaklah kalian tetap mendengar dan taat pada setiap yang menepati kebenaran. Karena jika mereka baik, maka kebaikan itu untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka buruk, maka keburukan itu hanya untuk mereka”.

 

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (71)          

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا (72)

3.       (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan Barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. Al-Isra: 71-72)

Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang

Wassalamualaikum Wr Wb,

Senin, 16 Mei 2011

Dendy

 

Thanks to :

1.Ust. Rozak

2.M.T Al Wasilah

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: